20100110

PENGERTIAN DAN PERSAUDARAAN (Drs. Frans Allorerung)

PENGERTIAN DAN PERSAUDARAAN
Drs. Frans Allorerung

Saya terlibat dalam kegiatan Kelompok Cipayung ketika saya masih menjadi salah satu fungsionaris pengurus pusat GMKI. Mulai dari status sekretaris jenderal sampai dengan ketua umum PP GMKI, selain mengurusi intern organisasi GMKI juga memperhatikan kegiatan Kelompok Cipayung. Pengalaman-pengalaman saya di atas, khususnya hubungan dan kerja sama di antara organisasi-organisasi mahasiswa terdapat adanya keakraban yang sangat dalam terhadap sikap-sikap kami. Keakraban itu disebabkan karena saling memberi pengertian antara organisasi-organisasi mahasiswa, di mana pengertian ini menambah pemasukan dari pemahaman antarorganisasi ini.
Pengertian, pemahaman, dan keakraban seperti itu yang pertama kali adalah ketika Kelompok Cipayung mengadakan perjalanan ke daerah-daerah, terutama ke kota-kota Bandung yang disponsori oleh cabang HMI, Yogya (GMNI), Semarang (GMKI), Malang (PMKRI), dan yang terakhir kami kembali ke Jakarta (PMII). Dengan kereta api ‘Gaya Baru’ (transport kereta api yang terendah), hampir seluruh anggota Kelompok Cipayung berangkat bersama-sama menuju ke daerah-daerah. Sambil duduk di kereta api, kami berdiskusi mengenai perencanaan kegiatan keesokan hari. Dalam diskusi itu kesemuanya memang serius, tetapi kadang-kadang berbicara mengarah pada kata-kata humor dan kata-kata ini sebenarnya dianggap sebagai tabu karena berkaitan dengan hakikat organisasi mahasiswa masing-masing. Apabila kami tidak tergabung dalam suatu wadah Kelompok Cipayung, saya kira kata-kata humor tidak terdengar dalam diskusi itu.
Kami tiba di kota-kota yang ditujukan. Untuk menginap semalam di kota-kota itu, bukan menginap ke hotel-hotel tetapi kami tidur di kantor sekretariat cabang organisasi masing-masing, sedangkan untuk bersantap makan malam kami sudah menentukan suatu tempat yang strategis yaitu Warung Tegal, di mana harga makanan-makanan ini sangat paling murah.
Di sisi lain, kegiatan kebersamaan misalnya bepergian dengan kereta api, tidur berkumpul, ‘makan sepiring minum segelas’, tidur bersama-sama, dan lain-lainnya merupakan sarana uji-coba dalam interaksi Kelompok Cipayung yang menuju kepada pengertian dan kerja sama sesama pihak, saling percaya diri tanpa saling mencurigakan, saling menghargai pendapat sesama organisasi, dan bermuara pada persahabatan dan persaudaraan. Saya kira merupakan inti dari pengalaman saya bagi kegiatan Kelompok Cipayung yang sangat berharga.
Metode dan pola Kelompok Cipayung agaknya sudah meresapi dan menghayati filosofi tentang nilai kemerdekaan melalui kajian-kajian Kelompok Cipayung. Kajian-kajian tersebut didasarkan dan kehasratan Kelompok Cipayung yang cenderung mengarah pada harapan-harapan dan cita-cita bangsa. Metode dan pola tersebut memberitahukan suatu harapan yang sudah diwujudkan melalui pemikiran-pemikiran pokok yang berpegang pada perbaikan-perbaikan dalam kehidupan dan kondisi negara dan masyarakat, dan sekaligus sebagai acuan antisipasi terhadap penindasan sesama manusia dalam penilaian dasar-dasar pembangunan nasional. Pemikiran-pemikiran seperti itu, kadang-kadang saling berbeda atau bertentangan dengan masalah dan tindakan kekuasaan yang berlangsung selama ini. Namun, bentuk-bentuk tentang program pembangunan nasional yang dikeluarkan oleh pemerintahan rata-rata serasi dengan konsep-konsep Kelompok Cipayung yakni, keadilan dan
pemerataan sosial.
Keinginan dan kehasratan Kelompok Cipayung dalam kegiatan-kegiatannya bertolak pada isi hati nurani masing-masing yang menuju kepada kebersamaan. Perencanaan, substansi, dan tujuan bagi keinginan dan kehasratan Kelompok Cipayung hampir tidak terjadi perbedaan-perbedaan yang sangat prinsipal antara organisasi-organisasi yang terlibat. Masalah-masalah di atas tadi mengarah pada kepentingan dan kebutuhan rakyat, terutama untuk kerangka mewujudkan keadilan sosial, pemerataan dan pertumbuhan ekonomi, kedaulatan rakyat, demokrasi, dan sebagainya. Hal-hal tersebut dilandaskan oleh pemikiran kritis dan konstruktif, serta dianggap sebagai tolok-ukur kajian Kelompok Cipayung.
Dalam pengalaman-pengalaman saya yang berkaut masalah-masalah itu ketika menyambut Perdana Menteri Suzuki, negara Jepang pada bulan Januari 1981. Kelompok Cipayung berdiskusi tentang hubungan ekonomi antara Jepang dengan Indonesia. Dalam kesimpulan diskusi itu antara lain adalah, hubungan ekonomi tersebut harus ditinjau kembali berdasarkan timbal-balik secara antara kedua negara tersebut, sebab watak kapitalisme Jepang yang cerdik dan ekspansionaris ternyata telah dibuktikan oleh sejarah yang berlumuran darah. Indonesia dianggap sebagai tempat penanaman modal dan dampak keuntungan-keuntungan ekonomi itu berada pada pihak Jepang.
Di sisi lain, potensi dan kekayaan negara kita yang tempat menguras sumber-sumber energi, mineral, dan kekayaan alam yang lainnya oleh negara Jepang merupakan suatu surga yang memberikan kekayaan melalui pemasukan-pemasukan ekonomi kepada negara Jepang. Oleh karena itu, Kelompok Cipayung mengeluarkan kajian-kajian sebagai antisipasi terhadap prospek hubungan ekonomi di atas tadi.
Dalam pertemuan diskusi yang sedang berlangsung, tiba-tiba beberapa mahasiswa yang berasal dari organisasi-organisasi mahasiswa lokal datang dan mendengar tentang hal-hal diskusi ini, dan kemudian kesimpulan diskusi ini mereka rata-rata menyetujui. Untuk selanjutnya, pergerakan mahasiswa harus berbuat dan bertindak terhadap dampak hubungan ekonomi tersebut, sehingga ada manfaatnya bagi masyarakat. Menurut mereka, tindakan pergerakan mahasiswa dalam persoalan ini adalah tindakan aksi massa berupa demonstrasi secara total. Demonstrasi itu dalam barisan depan menurut mereka terdiri atas staf Kelompok Cipayung, sebab keberadaan dan kegiatan Kelompok Cipayung oleh masyarakat sudah dikenal terutama kalangan mahasiswa. Dampak strategis dari keadaan itu merupakan unjuk massa dalam merebut kunci posisi kehidupan politik.
Kelompok Cipayung menghargai kepada mereka tetapi untuk ikut serta kegiatan demonstrasi, Kelompok Cipayung tidak tertarik. Kelompok Cipayung bukanlah suatu kekuatan politik untuk merebut dan menguasai suatu kedudukan politik yang praktis, melainkan suatu kekuatan moral dengan tanpa kekerasan. Demonstrasi adalah bagian dari perlengkapan kehidupan politik yang mengarah pada tindakan kekerasan dalam memutuskan yang terakhir. Oleh karena itu, Kelompok Cipayung menolak tegas-tegas terhadap hal itu, sebab setiap langkah demonstrasi menjurus pada pengorbanan-pengorbanan bagi kemanusiaan. Dari peristiwa di atas tadi Kelompok Cipayung dapat mengambil hikmah terhadap penolakan itu yaitu, berpegang pada prinsip-prinsip moral. Di lain pihak, keberdaan dan jati diri, serta kepercayaan diri dari organisasi-organisasi kemahasiswaan semakin lama semakin tebal.
Dua belas tahun lebih saya keluar dari GMKI dan sekaligus ‘minggat’ dari wadah Kelompok Cipayung, saya melihat bahwa kegiatan Kelompok Cipayung seakan-akan tidak bergaung lagi, tidak ada gema, serta dampak kajian-kajian terhadap masyarakat melalui media massa cenderung meredup. Kelompok Cipayung yang mengarah pada pengertian dan kebersamaan, menuju kepada kader-kader bangsa, wawasan-wawasan pandangan yang jauh, bersikap kritis terhadap situasi sekelilingnya, seolah lambat-laun sirna. Apakah disebabkan oleh sikap kelemahan Kelompok Cipayung?
Bagaimana juga, saya sangat prihatin terhadap keadaan Kelompok Cipayung. Saya berjuang untuk keberadaan Kelompok Cipayung dan terlibat dalam kegiatannya, mengapa kecerahan Kelompok Cipayung tenggelam bak badai lautan. Kelompok Cipayung disegani dari kajian-kajiannya seakan-akan saat ini hampir tidak ada lagi, hampir tidak peka lagi terhadap kehidupan masyarakat yang sedang bergejolak.
Saya mengharap bahwa fitrah dan kiprah Kelompok Cipayung akan didengar, akan bergaung lagi. Kelompok Cipayung bukan menjurus pada suatu kematian secara tanpa bangkai, melainkan mendorong agar tatanan kehidupan bangsa melalui kebersamaan generasi muda untuk menatap dan mencapai tatanan sosial yang kita cita-citakan.
Drs. Frans Allorerung - Ketua Umum Pengurus Pusat GMKI 1980-1982

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar